Kartu Pos Polaroid



Nama Pengirim: Stella Emada Bestio
Nama Penerima: Andika Budiman
Kesan Saat Menerima:

Mungkin kemarin angin memang berhembus—serta hujan turun—sehingga meskipun tak sadar adanya angin atau hujan, tahu-tahu saya mendapat selembar kartu pos paling seru dari Stella.

Sekilas kamera ini berwajah memelas, tetapi tidak … ia tidak membawa cerita sedih tentang bangkrutnya perusahaan Polaroid. (-_-) Justru kini ia dan kawan-kawannya semakin dicari dan digemari. Kendati demikian, kamera ini tetap rendah hati. “Aku kamera polaroid biasa-biasa, kok,” ujarnya. “Kebisaanku ya mengambil foto dan mencetaknya dalam waktu cepat.”

“Ah, yang betul …” saya bergumam sangsi.

“BETUL!” tiba-tiba ia jadi tegas. “Cepat ambil pose! Satu, dua, tiga. (“Cekrek.”) Sekarang lihat …



Sementara mulutnya penuh, mulut saya ternganga.




“Aku nggak bohong, kaaan?” goda si kamera.

“Nggak ... tapi jangan sambil ngobrol juga. Nanti kamu tersedak … .” timpal saya khawatir sambil juga tidak mau kalah.

 “Tenaaang, aku berpengalaman,” ujarnya. “Nah! Ini sudah jadi. Menurut kamu gimana?”

“Boleh juga,” saya mengakui. Lalu saya dekatkan ‘foto’ itu ke pandangan. “Eh tunggu! Bajuku ‘kan warna hitam!” protes saya. “Lagipula jam dinding di rumah juga bentuknya kotak.”

Sambil cekikikan, si kamera membalikkan badannya. Di punggungnya tertulis, “Kartu pos biasa-biasa saja yang dibuat oleh si biasa-biasa saja yang membuat ini waktu lagi ngantuk berat. Jadi kesalahan kartu pos ini semoga ditanggapi dengan biasa-biasa saja.” Saya pun menyerah. Sejauh saya mengenalnya, kamera ini selalu punya jawaban …





Fakta lapangan semakin meyakinkan saya kalau dia bukan kamera biasa.

***

PS: Banyak terima kasih kepada Stella! T.T Untuk kesenangan berlipat yang dirasakan saat menerima, menjajal, dan menulis cerita tentang si kamera polaroid. Kartunya segera saya balas!

PSS: Tentu saja salah satu inspirasi besar adalah tulisan-tulisan Sundea dalam zine-zine-an online Salamatahari. Hidup Dea!

POSTED BY cardtopost
DISCUSSION 1 Comment


Pengirim: Sundea, Andik Darmawanto
Penerima   : Andika Budiman

Kesan: Sepanjang bulan puasa lalu, saya banyak menunggu berbuka puasa dengan menulis dan mengirim kartu pos. (Yaaa, cuaca panas, Bandung macet, dan kuliah belum dimulai:P.) Awalnya hanya kepada teman-teman Card to Post, tetapi lantas merembet ke teman-teman dekat, teman-teman yang saya-ingin-lebih-dekat, bahkan seseorang yang mendiamkan saya belakangan ini. (T.T) Di buku hariannya, Anne Frank menulis bahwa kertas dan pena lebih sabar dari manusia. Baru kemarin saya sadar untuk tidak mengisi kartu pos dengan hal-hal yang memburu dan mengharapkan balasan secepatnya. Kartu pos bisa menjadi muara bagi kata-kata yang … penting, tetapi kadang-kadang terlalu repot, memalukan, dan sentimentil jika dialirkan lewat mulut.

Kini, ketika bulan puasa berakhir saya mendapat semacam panen balasan kartu pos. Tidak semua mengirimkan kartu. Ada yang membalas melalui e-mail, sms, atau posting di blog. (Meskipun ingin, saya tidak bisa protes karena ada yang membalas manis sekali! Padahal mereka tidak menulis di atas kartu. “Mungkin belum,” pikir saya.)

Hm, seharusnya postingan ini digunakan untuk menyampaikan kesan setelah menerima kartu pos, kan? Maka spesial buat teman-teman yang belum kehilangan keyakinan dan masih membaca hingga kalimat ini, berikut kesan saya menerima kartu pos dari teman-teman Card to Post. :D

Dari kartu biru searah jarum jam: kartu pos pertama dan kedua dalam foto itu dari Sundea. Salah satu kesenangan menerima kartu dari Dea adalah menebak-nebak kaitan antara foto dan caption yang mendampinginya. Kartu pos pertama mudah karena Dea memotret perpustakaan dan kafe Lir yang ia ceritakan di belakangnya. Nah, kartu kedua inilah yang akhirnya saya pandangi lama-lama. Kartu ini bertuliskan: Kehidupan menghadiahimu apa saja. Kadang ia tersembunyi di sela-sela dedaunan. Atau diantar peristiwa yang kau sebut “kebetulan”. Mari tebak bersama kaitan maknanya dengan foto pengatur temperatur kulkas! ☺

Kartu dari Mas Andik berilustrasikan sekelompok musisi Arab pada tahun 1864. Namun ketika saya lihat lebih dekat, perasaan yang muncul: “Mereka bisa saja musisi dari Nusantara. Saya tidak akan bisa membedakannya.” (Mungkin karena fotonya hitam putih, dan ciri-ciri fisik bangsa Arab yang saya kenali terbatas. Instrumennya pun kelihatan seperti biola, kecapi, dan perkusi.) Mendapat kartu ini, saya jadi ingin icip-icip dengar musik Arab. (Apa Beirut masuk hitungan, hahaheu? Ada yang punya saran?) Terima kasih, Mas Andik. Kartunya segera saya balas.




POSTED BY cardtopost
DISCUSSION 0 Comments


Pengirim : Hanifah Nurhayati, Chicha Audriana, dan Kristi Praptiwi

Penerima : Andika Budiman
Ini adalah beberapa kartu yang saya terima dalam beberapa minggu terakhir. Di kanan atas ada kartu dari Kristi. Ia memotret sebuah sekolah di salah satu desa di pelosok Nias. Langitnya biru. Padang rumputnya luaaas... Baru kalau diperhatikan lebih dekat, kelihatan anak-anak berseragam pramuka berbaris seperti (dan sekecil) pasukan semut. Kata Kristi dalam bahasa Nias 'ya'ahowu!' artinya 'diberkatilah engkau!'. Itu pula yang saya teriakan dalam hati saat sadar kartu pos saya sampai dengan selamat di Nias.
Kartu pos di sisi kiri dikirim BFF-kartu-pos saya, Haniponk. Kartu yang bawah mengabarkan kebahagiaannya baru lulus kuliah, sementara kartu yang atas mengabarkan kerisauannya tentang hidup setelah wisuda, heheheu. Saya sedang berpikir mau menulis balasan apa. Di sisi lain, saya suka sekali foto-foto yang diambil oleh Niponk! Melihatnya seperti membuka buku foto di depan pemandangan yang sama persis dengan yang ada di foto.

Kartu pos dari Chicha saya terima Sabtu pagi pekan lalu, menanyakan kabar Bandung dan kabar mobil-mobil berplat nomor B pada akhir pekan. Membaca kartu pos dari Chicha, saya melewatkan sisa hari itu sambil berharap-harap cemas; berharap bahwa salah satu dari mobil berplat B itu datang dan membawa
pulang teman-teman yang sekarang bekerja di Jakarta. T.T

POSTED BY cardtopost
DISCUSSION 0 Comments
Powered by Blogger.