Tangan
-Nine Ballrom Thamrin, Sabtu 07 Juli 2012-
Card to Post di
Indonesian Youth Conference
Tangan kita adalah sumber segala
keajaiban. Dari sanalah jabat erat dan sentuhan kasih dapat bermula, namun dari
sana pulalah segala kerusakan dan kekerasan dapat berpangkal. Sesuai dengan
judul Indonesia Youth Conference (IYC) 2012, “Kita yang Menentukan”. Apa yang
dilakukan tangan kita, para pemuda, adalah benih atas apapun yang akan terjadi di
masa datang.
IYC adalah kegiatan yang yang
direncanakan dan diselenggarakan oleh pemuda setahun sekali. Tujuannya adalah
mengumpulkan pemuda Indonesia untuk berbagi ide, meningkatkan kepedulian mereka
terhadap isu-isu terkini, serta meyakinkan masyarakat bahwa suara pemuda harus
didengar secara serius. Pada IYC yang ke-3 ini, Card to Post diundang turut berpartisipasi.
Kami hadir di Festival IYC yang berlangsung pada malam Minggu, 7 Juli, di Nine
Ballrom Thamrin, Jakarta.
Booth Card to Post disambut
dengan meriah. Lihat, deh …
Menyanyi True Colors
-Yogyakarta, Jumat, 15 Juni 2012-
Jalan-jalan Bareng
KLIK 18 Seri 2
Your true colors, true
colors
Are beautiful, like a
rainbow**
Di Tugu, poros kota Yogya,
warna-warna berputar tanpa jeda. Di sana kehidupan selamanya seperti nuansa
pelangi. Aneka ria, namun tak saling berbentur.
Pada suatu Jumat malam, Card to
Post dan teman-teman KLIK 18 menangkap warna-warna itu untuk dikartuposkan
kepada presiden. Pssst … sebelum dicetak ke dalam kartu pos, kamu boleh
mendapat bocoran sedikit cerita di balik beberapa foto … ;)
![]() |
| karpet kita matching sama motor polisi |
Di Bawah Langit Yogyakarta
-Yogyakarta, Kamis, 14 Juni 2012-
Jalan-jalan bareng
KLIK 18
“Kalian ini funding-nya siapa? PDIP, ya? Atau minta didanai Partai Demokrat?”
*mendadak hening*
Ketika Card to Post dan
teman-teman dari Klik 18 berjalan-jalan di seputar Malioboro dalam rangka
#KartuPosUntukPresiden, pertanyaan-pertanyaan semacam itu tidak terhindar.
Berkali-kali kami menjelaskan bahwa Card to Post bukan milik partai politik
apapun. Gerakan kami punya tujuan sederhana saja: menghidupkan kembali
komunikasi yang personal lewat berkirim kartu pos. Kenapa #KartuPosUntukPresiden?
Karena kita semua tahu siapa dirinya dan aspirasi kepada presiden dapat
diungkapkan dalam berbagai cara, termasuk cara yang kreatif dan personal.
Ada Kata "Bunyi" dalam "Persembunyian" ;)
-Yogyakarta, Rabu, 13 Juni 2012-
Card
to post main ke LIR
Seperti
rombongan tanjidor dan segala peralatannya, Card to Post mampir ke Lir, sebuah
ruang alternatif di bilangan Baciro, Yogyakarta. Sesuai namanya yang “irit”
secara bunyi, Lir mungil adanya. Card to Post sempat khawatir membuat tempat
itu jadi tidak nyaman karena sesak. Ternyata, tidak, Teman-teman. Meski
kehadiran kami memang membuat tempat itu jadi sepadat penduduk ibu kota, sesak
dan tidak nyaman adalah sesuatu yang relatif.
Siang itu Card
to Post mengajak teman-teman yang datang ke Lir membuat #KartuPosUntukPresiden.
Ternyata sambutannya cukup meriah, apa lagi kami berjumpa juga dengan
teman-teman yang sudah menjadi anggota Card to Post sebelumnya seperti
Gabriella Intani Putri dan Dimaz Maulana. Meja-meja kecil yang tersedia untuk
menggambar nyaris tak pernah kosong. Aspirasi teman-teman pun beraneka ragam.
Ada yang seperti
ini misalnya:
The Weird Postman - a Mixtape Project*
*oleh Muammar Fikrie
The Weird Postman, dibuat untuk project Card to Post. Judulnya mungkin saja terasa absurd, saat itu saya sedang membayangkan menjadi seorang tukang pos. Mixtape ini identik dengan lagu yang bertema (baca: berjudul) postcards atau hal-hal berbau pos lainnya. Kecuali sebuah cover version John Lennon dari The Postal Service yang entah kenapa saya rasa perlu untuk dimasukan. Nama bandnya yang berbau pos mungkin jadi alasan, warna musiknya dan ini adalah ‘Grow Old With Me’ milik John Lennon—cukuplah alasan subjektif saya untuk menaruh lagu ini di The Weird Postman.
Saya menikmati waktu tiga minggu—di sela-sela kesibukan menantang kebanalan Jakarta—saat meracik mixtape ini. Bermain-main dengan sekumpulan album di ‘bagasi’ komputer mini, berikut bertualang di dunia jejaring. Memilah-milih 43 judul lagu, sebelum akhirnya ‘nyaman’ dengan 14 deret nada di The Weird Postman. Mixtape ini memuat beberapa genre musik: folk pop, indie pop, indie rock atau bahkan nada-nada gamang ala postrock.
Saya membayangkan: mixtape ini bisa menemani saat-saat menunggu datangnya kartu pos. Atau mungkin juga menjadi teman yang baik saat anda membuat kartu pos. Mungkin saya tak masuk kategori pria penghibur. Tapi harapan saya dengan mixtape ini anda bisa terhibur.
isi mixtape:
Oleh-oleh dari Bandung
Teman-teman, akhir pekan lalu (10-11/03/12) Cardtopost membawa #KartuPosUntukPresiden ke Bandung. Dari dua tempat yang kami datangi, ada aneka cerita seru. Ini, ini, kami bagi ceritanya =)
10 Maret 2012: Warung Imajinasi
Di Jln. Dr.Curie no.1 Bandung, kami disambut oleh teman-teman Drawing Club Warung Imajinasi. Teman-teman bebas memilih lokasi menggambar favorit mereka. Hujan turun rintik-rintik, tapi ada juga yang tetap memilih spot menggambar outdoor. Riky yang menggambar Pak SBY menyanyi dan si kecil Kei yang menggambar kue ulangtahun untuk Pak Presiden misalnya.
Kartu Pos Untuk Pak Presiden
| Cardtopost edisi spesial untuk Pak Presiden karya Made Wirawan |
Budi : “Jadi Presiden, bu..”
Ibu Guru : “Kalau kamu, Badu?”
Badu : “Naik pesawat Presiden, bu..”
Potongan percakapan diatas hanyalah khayalan kami semata, tapi tak kecil kemungkinan bila nantinya adik-adik kecil kita akan lebih tertarik dengan kemewahan menjadi Pemerintah daripada mengemban tugas Pemerintah itu sendiri.
Sebagian besar dari kita (kalau tidak bisa dibilang seluruhnya) tidak memilih menyampaikan aspirasi di jalanan, “bukan aktivis,” dalih kita. Tapi kita tentunya merasakan keresahan yang sama, kegelisahan yang tak jauh beda. Lantas, bagaimana menyiasatinya?
Card to Post ingin mengajak teman-teman sekalian memakai siasat yang kami tawarkan: mengirimi Presiden kita kartupos! Sekedar menyampaikan aspirasi kita atas apa yang terjadi di negara ini. Bentuknya bisa apa saja; kekecewaan, curahan hati, harapan, dukungan, kritik & saran, atau sekedar sapaan.
Toro Elmar: Menyenangkan Orang dengan Kartu Pos!
Kreatif, positif, dan alternatif itu adalah tiga kata yang paling tepat untuk menggambarkan pemuda gempal bernama Toro Elmar ini. Ia banyak menciptakan karya-karya – kebanyak karya ilustrasi - yang khas! Dari mulai komik, poster, hingga zine. Semangat positif dan berpikir alternatif kerap disisipkan ditiap karyanya, termasuk kicauan-kicauannya di Twitter land.
Selidik punya selidik, pria 23 tahun ini sudah doyan dengan benda dan aktivitas pos sejak kecil hingga kini. Kepada Cardtopost, Toro bercerita banyak tentang pengalaman kiriman-kiriman kartu posnya. Dari mulai cerita bagaimana proses pembuatan kartu pos ala Toro, kartu pos yang tidak pernah di balas, kebiasaannya mengirimkan kartu pos kepada orang-orang yang tidak dikenal hingga ide gilanya soal prangko di Indonesia.
Sambil minum teh hangat dan mendengarkan lagu santai, mari kita simak obrolan panjang kami..
Selidik punya selidik, pria 23 tahun ini sudah doyan dengan benda dan aktivitas pos sejak kecil hingga kini. Kepada Cardtopost, Toro bercerita banyak tentang pengalaman kiriman-kiriman kartu posnya. Dari mulai cerita bagaimana proses pembuatan kartu pos ala Toro, kartu pos yang tidak pernah di balas, kebiasaannya mengirimkan kartu pos kepada orang-orang yang tidak dikenal hingga ide gilanya soal prangko di Indonesia.
Sambil minum teh hangat dan mendengarkan lagu santai, mari kita simak obrolan panjang kami..
Men-tradisi-kan Tradisi (apa kabar kartupos?
Tidak bisa dipungkiri kita sudah berada di era digital. Era serba cepat dan teknologi yang serba maju. Ditandainya dengan
pelbagai macam gadget-gadget canggih
yang memudahkan atau bahkan memanjakan manusia. Dari ponsel sampai komputer
terus berkembang seiring zaman. Ponsel yang dulunya begitu besar ukurannya,
sekarang hadir dengan tampilan yang ramping dan dilengkapi berbagai aplikasi.
Komputer juga mengalami perkembangan yang pesat, salah satunya “komputer jinjing”
atau yang lebih dikenal dengan istilah laptop. Mudah dibawa menjadi salah satu
alasan orang memiliki perangkat ini.
Bagaimana dengan tradisi surat-menyurat terkait
dengan kehadiran ponsel dan komputer? Kehadiran perangkat tersebut menggantikan
peran surat-menyurat secara konvensional. Ponsel dengan aplikasi SMS (Short Messange
Service) menjadi salah satu perantara untuk bertegur sapa. Bahkan sekarang
munculnya BBM (Blackberry Messenger) juga menambah alternatif manusia
dalam berkirim pesan.
katupos sudah ditangan Salim
Buitenzorg dalam Kartu Pos
Sepertinya masih banyak yang asing dengan kata Buitenzorg. Begitu juga
saya. Dalam kondisi lapar, sekilas saya sempat mengiranya sebagai panganan asal
Belanda. Kata yang agaknya sulit dilafalkan dengan lidah Indonesia ini rupanya julukan bagi kota Bogor
600 tahun yang lalu. Artinya without care.
Dahi saya sempat mengernyit beberapa saat sampai akhirnya Uthie, salahsatu
pencetus komunitas Kampoeng Bogor, menjelaskan,
“without care pun kota Bogor
sudah sangat indah dari sananya.”
Dalam kepala saya, kalimat itu langsung menayangkan visual kota Bogor
pada masa pendudukan Belanda. Tentunya dibantu dengan sejumlah foto-foto ber-tone sephia di dinding markas mereka.
Tips Lihai Bikin Kartu Pos Aduhai
![]() |
| Motivational Postcard punya Putri Fitria |
Itu tuh alasan yang banyak disembur kalau kita kenalin Card
to Post. Aneh loh, zaman serba monyong gini gak bisa bikin kartu pos.. Sekiranya
gak punya printer di rumah, pula gak
kerja kantoran, percetakan banyak atuh
nyebar di kota. Atau lebih gampangnya
lagi, beli kertas aja yang tebalan dikit, trus tinggal digaris-garis, penggaris
punya kaaann? Kalau no hape? #eh
Gini aja deh, aku bagi dikit tips bikin kartu pos yang asik!
Sebenarnya tinggal ulik ulang kartu pos yang sudah kawan-kawan Card to Post
bikin sih.. Jadi begini contohnya ;
Card to Post – Romantisme Kartu Pos di Dunia Jejaring
![]() |
| Dimuat di Papernoise edisi #3 |
“I'll send you postcards every single day, Just to prove I
still exist”
Kutipan di atas berasal dari
lirik lagu ‘Postcards from a Young Man’ yang dipopulerkan Manic Street Preachers,
sebuah band alternative rock dari Cardiff, Wales. Lagu itu
–berasal dari album dengan judul yang sama— mewakili poin penting dari proses
bertukar pesan. Agaknya tak berlebihan juga, jika kutipan itu dilekatkan
bersama sebuah project bertajuk ‘Card to Post’.
Rizki Ramadhan, dibantu oleh
Putri Fitria dan Ardea Rhema Sikhar yang berinisiatif membuat project sederhana,
lucu, intim sekaligus romantik tersebut. Rizki, jurnalis untuk sebuah majalah, juga
aktif nge-blog di: memangterlalu.blogspot.com. Putri, penulis lepas, sekarang
bekerja sebagai peneliti di salah satu kedutaan asing di Indonesia. Dea,
penulis yang mungkin akan lebih akrab jika menyebut situsnya: salamatahari.com.
Saya bertemu dengan mereka pada sebuah workshop di ruangrupa, beberapa bulan silam.
Tak banyak kabar yang kami bagi
setelahnya, kecuali beberapa kesempatan bertukar hal-hal menyenangkan dengan
salah seorang dari mereka. Beberapa bulan setelahnya, sebuah pesan masuk di
blackberry messenger mengajak untuk ikut project Card to Post. Saya
menghabiskan waktu untuk beberapa saat di blog mereka, memahami maksud project
ini, mengenalnya lebih dekat dan akhirnya memutuskan untuk ikut.
Postcard of Living dan Sebuah Lanskap
-Jakarta Art District, Grand Indonesia 3 Desember 2011-


...Postcard of Living“ adalah dua belas
lempeng logam yang berjajar di Jakarta Art District, Grand Indonesia. Di
setiap lempeng logam tersebut selalu terdapat cut off manusia, baik seluruh tubuh maupun sebagian saja.
Pak Pos, Adakah Selembar Intimasi Untukku Hari Ini ?

Waktu Putri menghubungi saya beberapa waktu lalu dan cerita tentang project card to post-nya ini bersama Dea, Risky dan kawan-kawan, saya jadi berpikir kapan terakhir kali menerima kartu pos atau surat. Maksudnya, kartu pos yang ditujukan pada saya secara personal, bukan atas nama lembaga dan buat kantor saya.
Rasanya itu sudah lama sekali. Kalau
diingat-ingat, terakhir kali dapat kartu pos adalah kiriman dari Haruko
Endo (sekarang Haruko Nagai setelah nikah), sahabat saya yang orang
Jepang, sekitar tahun 2002, ketika dia lagi jalan-jalan ke Perancis.
Hampir sepuluh tahun yang lalu. Kartu pos itu juga masih saya simpan di rumah Jakarta.
Kembali Berkabar dengan Kartu Pos
Persegi panjang yang berukuran sekitar 11x16 cm itu
dipenuhi banyak kata, meminta untuk diisi kabar dan pengalaman si calon
pengirim. Dibaliknya ada foto tempat penangkaran Komodo, salah satu
tempat penangkaran hewan yang menjadi daya tarik wisata negeri ini.
Kartu pos bergambar Pulau Komodo itu adalah salah
satu dari sisa kartu pos yang masih saya miliki. Kejenuhan komunikasi
bermedia internet dan perhatian saya terhadap upaya PT. Pos untuk
bertahan dari komunikasi bermedia internet itu, membuat saya mencoba
untuk mengoleksi kartu pos.

Saya selalu suka dengan kartu pos yang memuat foto
sebuah tempat atau visual kesenian daerah. Apa yang saya bayangkan (dan
harapkan), ketika internet belum semasif sekarang, saat mengirim pesan
kepada seseorang di luar negri sana, saya tak perlu repot-repot
menceritakan tentang keindahan negara saya, cukup dengan visual yang ada
pada kartu pos tersebut Sederhananya, kartu pos bisa menjadi
representasi kecil-kecilan dari keindahan suatu negara.

Menulis di kartu pos atau surat pun punya esensi
yang berbeda dibandingkan dengan menulis email atau pesan melalui
internet. Isi dari kartu pos bisa hanya terdiri dari beberapa kata
ringkas melalui rangkaian puisi atau sajak. Ungkapan isi hati si
pengirim terwakilkan oleh gambar dan kata-kata. Rangkaian kata tidak
melulu disampaikan serius, bisa dengan cara jenaka untuk mengungkapkan
rasa perhatian, persahabatan, cinta, terima kasih dan sebagainya.
Pesan, salam, perhatian maupun perasaan untuk
seseorang dalam selembar kartu pos bisa terasa lebih spesial karena
kartu pos mudah dibawa atau dipajang untuk dilihat terus, sekaligus
menjadi pengingat.
Setelah mengirim kartu pos, tiada yang lebih
mengasyikan dari sensasi melihat kotak pos yang selalu kosong tiba-tiba
mendadak terisi beberapa kartu, harap-harap cemas menanti Pak Pos yang
semakin sering mondar-mandir di sekitar rumah, dan mendapat kartu pos
balasan dari si penerima yang berisi untaian kata atau gambar di
dalamnya.
Dulu kartu pos biasa digunakan untuk menyampaikan
berbagai ungkapan perasaan terutama menjelang hari-hari besar. Sekarang
BBM (Blackberry Messenger), Facebok, Twitter, Skype, Google +, dan
lainnya, atas nama kecepatan dan kemudahan menghapus kebiasaan itu
secara perlahan.
Beruntung, tidak semua orang memandang kecepatan
dan kemudahan berkomunikasi melalui media-media tersebut adalah hal
utama. Keberadaan wadah seperti postcrossing dan cardtopost memberi angin segar untuk membangun dan menikmati esensi kegiatan berkirim kartu pos.
Melalui kedua wadah itu, kita bisa mendapat teman
baru, dan berkesempatan untuk mengenal dunia dengan sensasi yang berbeda
dari yang ditawarkan media internet.
Cardtopost juga mengajak pengirim untuk
membuat kartu posnya sendiri. Segala macam minat dan potensi bisa
menjadi medium untuk menjabarkan berbagai ungkapan perasaan dari
pengirim. Kini, saatnya mencari teman baru dan memamerkan kreasimu
sendiri pada gambar atau kata penuh makna melalui lembaran kartu pos.
oleh: Indra Arief Pribadi, penulis lepas.
Mencari Ulang Esensi Berkomunikasi Lewat Kartu Pos (Semacam Kata Pengantar)
Kehadiran media sosial di dekade ini membawa
perubahan yang sungguh signifikan pada kehidupan kita. Selayaknya bedol
desa, kita semua bertransmigrasi ke dunia maya. Hehe, nggak sepenuhnya
pindah sih, tapi kita selalu menyempatkan diri untuk berada di media
sosial yang maya itu. Kita seolah menggandakan diri.
Tahun demi tahun kita lewati dengan cara baru
bersosialisasi ini. Pak De Marshall McLuhhan, seorang pakar komunikasi,
pernah berkata lewat bukunya yang nggak usah kalian tahu lah apa
judulnya, saya juga lupa. ...Manusia mencipta alat (teknologi), lalu
alat itu balik mencipta manusia,“. Awalnya, manusia mencipta media-media
sosial ini tapi coba lihat sekarang, yang terjadi adalah media-media
sosial itu lah yang membentuk gaya hidup baru manusia.
Konsep telepati antar dua orang yang bagi
masyarakat dekade-dekade silam hanya imajinasi, kini nyaris terwujud.
144 karakter status di Twitter seolah menjadi perpanjangan suara hati
dan pikiran kita. Bahkan reseptornya bukan hitungan individu lagi
melainkan massal. Kita mambawa privasi ke ranah publik. Banyak orang
bisa mengetahui apa yang sedang kita pikirkan, dimana kita sedang berada
dan apa yang kita sedang lakukan. Pertanyaan-pertanyaan ...Hai, kamu
lagi apa, dimana sama siapa?“ menjadi pertanyaan yang harus dihindari,
karena mungkin saja si lawan bicara menjawab ...Kan aku udah update di Twitter, pliis deh, kamu nggak follow aku yah.. Huh dasar, nggak perhatian!“
Hal lain yang menarik untuk disimak adalah
cara kita memberi ucapan. Ucapan ulang tahun misalnya. Kita tahu,
mengucapkan selamat ialah bukti kalau kita peduli dan menghargai rekan
kita, tapi apakah itu cukup dengan kalimat ucapan yang disingkat. Ucapan
yang paling popular ialah: ...HBD WYATB Y“ alias ...Happy birthday wish
you all the best yah.“. Untuk kita yang nggak mau repot nyusun kalimat,
kita bisa ReTweet ucapan teman, seenggaknya ada nama kita di ucapan itu..
Keberadaan Facebook yang memberi fasilitas
pengingat hari ulang tahun sangat membantu kita. Tapi dampaknya adalah
kadang kita terlalu bergantung atau terlalu percaya pada pengingat dari
Facebook itu. Saya pernah (sering) iseng mengubah-ubah tanggal lahir
saya di Facebook. Tahun kemarin saja saya tiga kali ulang tahun versi
facebook. Wall saya selalu ramai dengan ucapan selamat dan doa.
Lucunya, ada beberapa orang yang memberi ucapan di tiap kali saya
'ulang tahun'. Banyak yang nggak ingat dan peduli dengan kapan
sebenarnya kawan kita itu ulang tahun. Kita jadi seperti mesin yang akan
menuliskan ucapan secara otomatis ketika melihat seorang teman yang
oleh Facebook dikabarkan berulangtahun Tapi, perlu diakui juga sih,
ajang itu memang saya manfaatkan, pokoknya tiap kali saya lagi down dan butuh dukungan dan doa, maka saya akan berulang tahun di Facebook. Haha. Najong yaa
Ada nilai-nilai yang terpangkas dari era baru
komunikasi yang serba cepat bin mudah ini. Pesan-pesan yang seharusnya
istimewa, sakral dan memorable disampaikan dengan cara yang biasa. Ucapan selamat ulang tahun itu hanya contoh kecil, fren. Kita pasti sudah pernah denger cerita tentang artis yang diputusin dan dicerai cuma lewat BBM. Man, kalimat-kalimat yang seharusnya sakral untuk diucapkan menjadi seperti ocehan remeh-temeh.
Well, saya nggak
bermaksud untuk ngebubarin media sosial, toh di luar dampak-dampak
negatifnya itu banyak manfaat yang kita dapatkan. Pada intensitas
tertentu media sosial sangat membantu kehidupan komunikasi kita. Pada
intensitas yang berlebihan? Tentu saja itu akan memaksa kita untuk ber-multitasking. Orang-orang yang tidak terbiasa macam saya pasti akan terjangkit penyakit kepikunan dini alias skip. Haha
Nah, melalui program Card to Post ini, saya
yang dipayungi MALU mau mengajak kawan-kawan sejagad Indonesia untuk
saling menghidupi lagi budaya kirim-kiriman kartu pos. Hmm, sebenernya
kartu pos itu belum mati-mati amat sih, hanya kelihangan esensinya.
Para desainer atau seniman masih sering mencetak karyanya dengan format
kartu pos. Beberapa tahun silam ada Adracks, sebuah agency iklan
(CMIIW) menjadikan kartu pos sebagai media beriklan. Ia menyebarnya di
tempat-tempat makan dan mall. Saya termasuk salah satu kolektornya.
Lantas, kalau kita ingin mencetak gambar, kartu pos menjadi istilah yang
merujuk pada ukuran. 10 x 15 cm kalau nggak salah. Ya, dekade ini kartu
pos hanyalah sebuah cinderamata, ukuran kertas, bahkan media iklan.
Sementara esensinya kartu pos, yaitu sebagai medium yang memuat surat
pendek dan dikirimkan melalui kantor pos dengan menggunakan perangko,
raib!
Lalu apa menariknya kirim-kiriman kartu pos sih?
Sebenarnya saya juga bukan orang yang pernah kirim-kiriman kartu pos sebelum program ini. Haha. Tapi
kalau dilihat dari cerita orang-orang rasanya mereka sangat senang tiap
kali berkirim-kiriman kartu pos. Riset kecil-kecilan pun saya lakukan
demi ini. Salah satunya dengan main ke forum Postcrossing.com, forum
yang mewadahi para pehobi kirim-kiriman kartu pos dari seluruh dunia.
Dari situ saya ketemu dengan beberapa pegiatnya yang di Indonesia.
Kira-kira ini lah yang membuat kirim-kiriman
kartu pos itu seru. Pertama, keterkejutan. Rentang waktu pengiriman
kartu pos itu bikin hati kita deg-deg ser. Bagi si pengirim,
deg-deg-ser-nya itu karena kepikiran apakah kartu posnya sampai atau
nggak. Bagi si penerima, tentunya seperti apakah kartu pos dan kapan
kartu pos itu sampe pasti bikin penasaran. Pokoknya, kotak surat menjadi
kotak penuh kejutan deh. Kedua, kartu pos adalah bentuk komunikasi yang
berwujud, dapat di sentuh alias tidak maya. Pesan atau ucapan dalam
kartu pos itu menjadi lebih collectible dan pastinya memorable. Kita bisa memajangnya di tembok kamar atau menyimpannya di album sehingga bisa kita lihat dan pegang setiap waktu kita ingin.
Ah, saya jadi ingat dengan salah satu cerita pendek favorit saya, Kartu Pos dari Surga
karangan Agus Noor. Cerpen itu bercerita tentang anak kecil bernama
Beningnya yang menunggu kartu pos dari ibunya, Ren. Tiap kali kerja
keluar kota, Ren selalu mengirimi kartu pos. Dari hari ke hari Beningnya
menanyakan terus mengapa ibunya belum juga mengirimkan kartu pos.
Bapaknya, Marwan, tak tega untuk memberi tahu bahwa Ren telah meninggal
karena kecelakaan. Segala cara ia coba agar anaknya tidak lagi
menanyakan kartu pos dari Ren. Termasuk dengan mengirimkan kartu pos
bernamakan Ren. Beningnya yang sudah hapal benar, tau kalau kartu pos
itu palsu. Sampai akhirnya, di suatu malam, arwah Ren datang menghampiri
memberikan kartu pos secara langsung kepada si Beningnya.
Dari cerita ini kita jadi
melihat betapa kartu pos itu memiliki makna yang simbolik bagi
seseorang. Walau pun di era pada cerpen itu handphone sudah
ada, kartu pos menjadi media komunikasi utama antara Ibu dan Anak. Kartu
pos yang ia dapat dari ibunya itu ia kumpulkan pada sebuah box, dan tiap kali ia rindu ibunya, ia membuka dan melihatnya.
Ada satu cerita menarik dari
Marwan si bapak. Ia semacam penasaran hingga ke tahap iri melihat anak
dan istrinya saling berkirim kartu pos. Ia begitu iri dengan
keterkejutan si anak saat pak pos datang ke rumah membawakan kartu pos.
Lucunya, Marwan akhirnya mencoba berkirim kartu pos juga. Dan tahu kah
kamu kepada siapa kartu pos itu dialamatkan? Ya, Marwan mengalamatkan
kartu posnya ke dirinya sendiri. haha
Nah, daripada penasaran seperti Marwan, yuk ah mending kita bikin dan saling berkirim kartu pos. let's send a card to post feeling, greeting, or anything!
Rizki Ramada
Powered by Blogger.
Cardtopost adalah
- cardtopost
- Indonesia
- Card to Post adalah ajakan kepada kawan-kawan semua untuk membuat kartu pos untuk menyampaikan sebuah pesan, entah itu berupa ungkapan perasaan, ucapan selamat, atau sekedar sapaan. Sebagai anak muda yang kreatif, nggak bisa diem dan ngegemesin, gambar di kartu pos itu kudu bikinan kita sendiri, kalian bisa memuat foto, ilustrasi, crafting, atau apa pun... So, mari berkirim CARDto, nanti POSTi dibalas..
Program
step by step
Ikuti Kami
Sumbang Tulisan!
Hey ho, kalau yang punya ide dan pemikiran seru soal kartu pos dan aksi berkirim benda pos dan tertarik untuk mewujudkannya dalam bentuk artikel. Kami sungguh sangat senang untuk menerima dan menampilkannya.
langsung kirimkan tulisan kalian ke:
cardtopost@gmail.com
langsung kirimkan tulisan kalian ke:
cardtopost@gmail.com
















